Padahal Mahal, Sekolah Swasta di Banjarmasin Ini Amat Diminati

Kontras dengan melesunya sebagian sekolah swasta di Banjarmasin yang dikelola PGRI, sebagian lainnya bahkan menuai kesuksesan.

Sekolah Islam Terpadu Ukhuwah contohnya. Padahal berstatus swasta, dari segi bangunan saja sekolah yang berlokasi di Jalan Bumi Mas Raya, Pemurus Baru, Banjarmasin Selatan ini terbilang mentereng.

Bak kampus, bangunan utama empat lantai qris slot menampung ratusan siswa dari tingkat PAUD hingga SMA.

Tarif yang dipatok untuk bisa masuk sekolah ini memang terbilang tinggi. Untuk SD, tarif awal masuk Rp 20 juta, SMP Rp 17 juta dan SMA Rp 15 juta yang bisa dikredit para orangtua.

Hal tersebut belum termasuk tarif SPP yang dibayar tiap-tiap bulan berkisar Rp 600 ribu ke atas dengan sistem subsidi silang.

Namun Direktur Pengajaran Yayasan Ukhuwah Khairani menerangkan, hal tersebut sebanding dengan fasilitas yang diberikan terhadap siswa dan orangtua.

Salah satunya tarif makan free yang diberikan terhadap para siswa, sehingga para orangtua tak lagi memikirkan uang saku si kecil-si kecil mereka di sekolah.

Kemudian tak ada lagi tarif-tarif tambahan seperti uang pembangunan, tarif les, buku, uang ekstra kurikuler dan lainnya

“Sebab di sekolah, si kecil-si kecil sama sekali tak boleh jajan di luar sekolah. Tarif lain juga segala sudah include, termasuk tarif pembangunan sekolah,” terangnya.

Ditambahkannya, kwalitas sekolah, mulai dari kwalitas pengajaran, infrastruktur, daya pendidik hingga pengelola sekolah, yang semuanya berbasis Islam ialah salah satu andalan ‘jualan’ sekolah yang mulai berdiri tahun 2001 tersebut.

“Semua dikerjakan profesional. Standar kwalitas pengajaran dari pemerintah kita ikuti, tetapi kita juga punya standar kwalitas pengajaran khusus, yang jadi ciri khas sekolah, ialah penguatan di agama Islam,” terangnya.

Sementara itu, salah satu orangtua Hendra juga menyekolahkan buah hatinya di salah satu sekolah swasta di Kota Banjarmasin, SD IT Nurul Fikri di Jalan Purna Sakti.

Padahal patut keluarkan uang sebanyak Rp 10 juta untuk tarif masuk SD buah hatinya, Hendra mengaku tak keberatan.

“Bagi saya, sekolah swasta seperti ini bahkan yang bisa meniru tata tertib menteri. Guru dua orang untuk satu kelas yang jumlah muridnya dikontrol 20 orang saja,” katanya.

Selain itu, di sekolah buah hatinya juga diberikan full pembelajaran dan menerima perhatian penuh dari para guru.

“Hati saya benar-benar dilihat. Makan juga tak mau sembarangan karena sudah bisa dari sekolah. Jadi saya lebih hening tinggalkan si kecil di sekolah,” kata Hendra.