Selamat Untuk Merayakan Hari Pendidikan Nasional 2024

Tumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat! Tiap-tiap peristiwa dalam hidup yaitu kans untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi. Hari ini, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional dengan penuh semangat, menghargai peran pengajaran dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan kita.

Marilah kita bersama-sama menyokong pengajaran yang inklusif, berkwalitas, dan merata untuk seluruh generasi penerus bangsa. Dengan memberdayakan potensi setiap individu, kita membangun fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih bagus.

Selamat Hari Pendidikan Nasional dari kami Keluarga Besar @elizabeth_international! 📚🌱✨

Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan slot gacor hari ini hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pengajaran nasional di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga kaya, dia dikenal karena berani menyangkal kebijakan pengajaran pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya membolehkan buah hati-buah hati kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam tempat duduk pengajaran. Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan dia diasingkan ke Belanda, dan dia kemudian mendirikan sebuah institusi pengajaran bernama Taman Siswa setelah kembali ke Indonesia. Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan setelah kemerdekaan Indonesia. Filosofinya, Tut Wuri Handayani (“di belakang memberi dorongan”), dipakai sebagai semboyan dalam dunia pengajaran Indonesia. Dia wafat pada tanggal 26 April 1959.

Mengenang Kembali Sejarah Hari Pendidikan Nasional di Indonesia
Sejarah Hari Pendidikan Nasional memang tidak bisa dilepaskan dari sosok dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, sang pionir pengajaran bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama orisinil R.M. Suwardi Suryaningrat lahir dari keluarga ningrat di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Sesudah menuntaskan pengajaran dasar, Dia mengenyam pengajaran di STOVIA, namun tidak bisa menuntaskannya karena sakit. Akibatnya, Dia berprofesi menjadi seorang wartawan di sebagian media surat info, seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.

Selama era kolonialisme Belanda, dia dikenal karena berani menyangkal kebijakan pengajaran pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya membolehkan buah hati-buah hati kelahiran Belanda atau kaum priyayi yang bisa mengenyam tempat duduk pengajaran.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan dia diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiga tokoh ini kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Sesudah kembali ke Indonesia, dia kemudian mendirikan sebuah institusi pengajaran Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa.